Press Screening Empat Musim Pertiwi: Kisah Perempuan, Luka, dan Perjalanan Menuju Oscar 2027

JAKARTA — Film Empat Musim Pertiwi karya sutradara sekaligus penulis Kamila Andini menggelar press screening dan konferensi pers di XXI Epicentrum, Jakarta, Jumat (2/10/2026). Film produksi Forka Films tersebut menjadi perhatian setelah ditetapkan sebagai wakil Indonesia untuk kategori International Feature Film pada Academy Awards ke-99 atau Oscar 2027.
Dibintangi Putri Marino sebagai Pertiwi, film ini membawa kisah seorang perempuan yang kembali ke kampung halamannya di kawasan Bromo setelah menjalani hukuman penjara selama 20 tahun. Kepulangan tersebut tidak serta-merta menjadi awal kehidupan baru. Pertiwi justru harus berhadapan dengan ingatan masa lalu, penolakan lingkungan, trauma, serta pertanyaan mengenai tempat yang masih bisa ia sebut sebagai rumah.
Perjalanan Pertiwi bermula ketika dirinya masih berusia 16 tahun dan menjadi korban kekerasan seksual. Sebuah peristiwa tragis kemudian membuatnya harus menjalani hukuman penjara selama dua dekade. Ketika akhirnya bebas dan kembali ke desa, masyarakat masih melihatnya melalui peristiwa masa lalu tersebut.
Di tengah situasi itu, beberapa orang hadir dan memberikan ruang bagi Pertiwi untuk kembali menjalani hidup. Mak Ira yang diperankan Christine Hakim, Bisma yang dimainkan Arya Saloka, serta sejumlah karakter lain menjadi bagian penting dalam perjalanan Pertiwi menghadapi masa lalunya.
Berangkat dari cerita yang ditulis sejak 2017

Kamila Andini mengungkapkan bahwa Empat Musim Pertiwi bukanlah proyek yang lahir dalam waktu singkat. Ide dan penulisan skenarionya telah dimulai sejak 2017.
Proses tersebut sempat terhenti karena materi yang diangkat berkaitan dengan kekerasan seksual dan terasa sangat berat secara emosional. Dalam proses riset, Kamila kemudian berdiskusi dengan sejumlah penyintas untuk memahami pengalaman mereka secara lebih dekat.
Dari pertemuan tersebut, ia menemukan bahwa pengalaman penyintas tidak selalu berpusat pada keinginan untuk membalas atau menghukum pelaku. Sebagian justru menginginkan sesuatu yang lebih mendasar, yaitu kehidupan yang aman, tenang, dan memiliki ruang untuk pulih.
Perspektif tersebut kemudian ikut memengaruhi cara Kamila membangun karakter Pertiwi. Film ini tidak hanya menempatkan korban dalam posisi sebagai seseorang yang mengalami penderitaan, tetapi juga sebagai manusia dengan keinginan, pilihan, dan kebutuhan untuk menentukan kehidupannya sendiri.
Kamila juga mengakui bahwa proses menggarap film ini memberikan banyak refleksi personal. Baginya, cerita Pertiwi bukan sekadar persoalan kekerasan atau trauma, melainkan juga tentang bagaimana seseorang berusaha mendapatkan kembali hak untuk menentukan hidupnya.
Putri Marino harus memahami karakter yang sangat berbeda dari dirinya

Memerankan Pertiwi menjadi tantangan tersendiri bagi Putri Marino. Ia mengakui terdapat jarak yang cukup besar antara dirinya dengan karakter yang dimainkan.
Pertiwi digambarkan sebagai perempuan yang masih menjalani kehidupan secara fisik, tetapi menyimpan luka yang sangat dalam akibat pengalaman masa lalunya. Kondisi tersebut membuat Putri harus berhati-hati ketika membangun karakter agar Pertiwi tidak sekadar tampil sebagai korban.
Untuk membantu proses pendalaman, Putri berdiskusi secara intensif dengan Kamila Andini. Salah satu referensi yang diberikan kepadanya adalah novel Perempuan di Titik Nol karya Nawal El Saadawi.
Bacaan tersebut membantunya melihat berbagai bentuk ketidakadilan yang dapat dialami perempuan, baik dalam keluarga maupun lingkungan sosial dan pekerjaan.
Putri mengatakan proses tersebut perlahan membuatnya memahami pengalaman perempuan dari perspektif yang lebih luas. Ia tidak hanya berusaha memahami apa yang dialami Pertiwi, tetapi juga bagaimana pengalaman tersebut membentuk cara karakter tersebut memandang dunia.
Riset penyintas menjadi bagian penting dalam film

Bagi Kamila, membuat film mengenai pengalaman perempuan membutuhkan tanggung jawab yang besar. Karena itu, proses riset tidak hanya dilakukan melalui referensi tertulis, tetapi juga melalui percakapan dengan penyintas kekerasan seksual.
Salah satu hal yang kemudian menjadi perhatian Kamila adalah bagaimana keberpihakan terhadap korban diwujudkan dalam tindakan nyata.
Menurutnya, mengatakan bahwa seseorang berpihak kepada korban memang mudah. Namun, menerjemahkan keberpihakan tersebut dalam kehidupan sehari-hari jauh lebih kompleks.
Perspektif itu terlihat melalui perjalanan Pertiwi yang tidak selalu bertindak sebagai penyelamat bagi orang lain. Keputusan yang dibuatnya tetap berangkat dari kebutuhan dan pilihannya sendiri.
Dengan pendekatan tersebut, Empat Musim Pertiwi mencoba melihat perempuan bukan hanya dari luka yang mereka alami, tetapi juga dari kemampuan mereka untuk mengambil keputusan dan menentukan arah hidup.
Hanna Aretha melakukan riset bahasa isyarat untuk Raras

Selain Putri Marino, proses pendalaman karakter juga dilakukan Hanna Aretha yang berperan sebagai Raras.
Raras merupakan karakter yang berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat. Hanna melakukan riset bersama Kamila Andini untuk mempelajari gestur, ekspresi, serta cara berkomunikasi karakter tersebut.
Bahasa isyarat yang digunakan Raras dalam film memiliki latar berbeda dengan bahasa isyarat Indonesia yang berkembang melalui komunitas Tuli. Karena itu, Hanna tidak hanya mempelajari bentuk gerakannya, tetapi juga memahami konteks bagaimana bahasa tersebut tumbuh dari lingkungan karakter.
Pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya tim produksi untuk membuat karakter Raras terasa lebih natural dan memiliki latar kehidupan yang jelas.
Arya Saloka membawa gaya koboi ke dalam karakter Bisma

Sementara itu, Arya Saloka memerankan Bisma, salah satu sosok yang memiliki hubungan penting dengan Pertiwi.
Karakter Bisma tampil dengan gaya koboi dan beberapa adegan menampilkan dirinya menunggang kuda. Konsep penampilan tersebut datang dari perancang kostum Hagai Pakan.
Bagi Arya, kesempatan memainkan karakter dengan tampilan koboi sekaligus menjadi pengalaman yang menyenangkan. Ia bahkan menjadikan karakter Jamie Foxx dalam Django Unchained sebagai salah satu referensi untuk membangun persona Bisma.
Peran tersebut juga memberinya kesempatan mewujudkan keinginan untuk tampil sebagai karakter koboi di layar lebar.
Dari Toronto menuju Oscar

Sebelum hadir di bioskop Indonesia, Empat Musim Pertiwi telah lebih dahulu melakukan perjalanan di sejumlah festival film internasional.
Film tersebut menjalani world premiere di Toronto International Film Festival 2026. Setelah itu, film dijadwalkan hadir di Busan International Film Festival serta mengikuti rangkaian festival lainnya.
Perjalanan internasional tersebut menjadi modal penting setelah film ditetapkan sebagai wakil Indonesia untuk Oscar 2027.
Produser Ifa Isfansyah menilai penayangan di Indonesia juga memiliki arti penting dalam perjalanan film menuju Academy Awards. Menurutnya, pencapaian di dalam negeri tidak kalah penting dibandingkan perjalanan film di festival internasional.
Strategi kampanye Oscar pun akan terus dikembangkan. Tim produksi berencana memperluas promosi internasional dengan dukungan sales agent asal Prancis, Goodfellas, sementara rangkaian kampanye yang lebih intensif ditargetkan berjalan mulai pertengahan November.
Namun, status sebagai wakil Indonesia belum berarti film tersebut otomatis masuk nominasi Oscar. Empat Musim Pertiwi masih harus melewati proses seleksi Academy sebelum dapat melangkah ke tahap shortlist dan nominasi.
Memanfaatkan momentum saat film sedang diperbincangkan

Kamila Andini memiliki pengalaman sebelumnya membawa Yuni sebagai wakil Indonesia ke Oscar. Pengalaman tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam strategi kampanye Empat Musim Pertiwi.
Menurut Kamila, momentum menjadi faktor penting. Ketika sebuah film sudah terlalu lama berlalu dari masa perilisannya, membangun kembali perhatian terhadap film tersebut untuk kepentingan kampanye Oscar dapat menjadi lebih sulit.
Karena itu, tim ingin memanfaatkan momentum ketika Empat Musim Pertiwi sedang menjadi pembicaraan di berbagai festival dan kemudian segera hadir di bioskop Indonesia.
Tujuannya adalah memperluas jumlah penonton sekaligus membuat film tetap berada dalam perhatian para anggota Academy selama periode kampanye.
Empat Musim Pertiwi segera tayang di bioskop

Setelah melalui perjalanan panjang sejak pertama kali dikembangkan pada 2017, Empat Musim Pertiwi akhirnya bersiap bertemu dengan penonton Indonesia.
Film ini dijadwalkan tayang di bioskop Indonesia mulai 8 Oktober 2026.
Lebih dari sekadar film tentang kepulangan seorang perempuan, Empat Musim Pertiwi membawa pembahasan mengenai trauma, ketidakadilan, kekerasan terhadap perempuan, penerimaan sosial, serta proses seseorang untuk kembali menemukan kendali atas hidupnya.
Dengan perjalanan internasional yang telah dimulai dan statusnya sebagai wakil Indonesia untuk Oscar 2027, film Kamila Andini tersebut kini memasuki babak baru: memperkenalkan kisah Pertiwi kepada penonton Indonesia sekaligus membawa cerita perempuan Indonesia ke panggung perfilman dunia.