Film Pasukan 1000 Janda : Angkat Sosok Laksamana Malahayati, Mendapat Dukungan Paguyuban Warga Aceh seluruh Indonesia, Jadi Tribut Sutradara untuk Tanah Kelahiran Leluhur

Diangkat dari kisah Laksamana Malahayati dan pasukan Inong Balee, film besutan Archie Hekagery ini tunjukkan ketangguhan perempuan Aceh dalam skala epik.

 

Jakarta, 27 Oktober 2026 — Film Pasukan 1000 Janda persembahan Manara
Films mengangkat sosok pahlawan Aceh, Laksamana Malahayati. Disutradarai oleh
Archie Hekagery, film ini juga menjadi penghormatan untuk tanah leluhur Archie,
yang berasal dari Aceh.

Digarap dengan genre fantasy action, film Pasukan 1000 Janda diharapkan bisa
mengenalkan sosok Malahayati ke masyarakat Indonesia dan generasi muda secara
luas. Dengan sosok pahlawan Aceh yang diangkat ke dalam film, Pasukan 1000
Janda juga mendapatkan dukungan secara penuh oleh warga Aceh, melalui
penandatanganan nota kesepahaman (MoU) bersama Organisasi Taman Iskandar
Muda (TIM) sebagai naungan paguyuban warga Aceh seluruh Indonesia.
Penandatanganan MoU dilakukan sutradara Archie Hekagery bersama Ketua TIM
Masa Bakti 2026–2030, Ir. H. Muslim Armas

 

 

Dibintangi Atiqah Hasiholan hingga Cut Mini, film persembahan Manara Films ini hadirkan aksi laga membara para perempuan perkasa di Selat Malaka.

“Kami merasa bangga ada film tentang Malahayati lewat film Pasukan 1000 Janda.
Saya merasa gemas, karena Malahayati ini sebenarnya juga tidak kalah dengan Cut
Nyak Dhien. Kalau Cut Nyak Dhien itu berjuang di daratan dan pegunungan,
sementara Malahayati di pesisir. Semoga film Pasukan 1000 Janda membanggakan
warga Aceh dan Indonesia dengan perjuangannya bersama pasukan Inong Balee,”
ujar Dewan Kehormatan PP Taman Iskandar Muda (TIM) Dr. Ir. H.
Mustafa Abubakar.

“Taman Iskandar Muda sebagai paguyuban masyarakat Aceh di perantauan
mendukung penuh film ini, tidak saja karena berlatar belakang pahlawan Aceh,
tetapi juga karena film ini memilih pendekatan yang berbeda yang membuat
generasi muda penasaran ingin menyaksikan film yang berlatar sejarah tetapi
action-nya digarap seperti layaknya film luar negeri,” ujar Ketua Umum PP
Taman Iskandar Muda, Ir. H. Muslim Armas.

 

“Film Pasukan 1000 Janda menggunakan pendekatan fantasy action, karena
diharapkan film ini juga bisa menyentuh ke penonton muda. Semoga film ini bisa
membuat pahlawan dari Aceh yang demikian hebat menjadi lebih dikenal oleh
generasi muda di seluruh dunia,” ungkap sutradara Archie Hekagery.
“Ayah saya, nenek saya orang Aceh asli. Jadi saya membuat film Pasukan 1000
Janda juga untuk kampung halaman nenek saya,” tambah Archie.

“Kami ingin memperlihatkan bahwa Aceh itu indah, kuat, dan kokoh, serta film ini
menunjukkan bahwa perempuan-perempuan Aceh itu hebat,” ungkap pemeran
Maesaroh, yang menjadi salah satu sosok Inong Balee, Cut Mini.

 

 

Dari ancaman armada Belanda hingga misteri hilangnya sang laksamana, intip perjuangan Pasukan Inong Balee yang bikin penasaran generasi muda.

Disutradarai Archie Hekagery, film ini diproduseri oleh Yuda Wirafianto dengan
ko-produser Mifta Nur Rizki, dan produser eksekutif Bunga Mentari. Film ini
dibintangi oleh jajaran aktris ternama dan berbakat Indonesia.

Atiqah Hasiholan dipercaya sebagai Laksamana Malahayati yang perkasa dan berani
memimpin pasukan. Sementara itu, para pasukan Inong Balee di antaranya
diperankan oleh Cut Mini, Tasha Siahaan, Fergie Brittany, dan Ully Triani. Turut
bergabung di jajaran pemeran di film ini, Emil Kusumo, Vincent Verhaag, Hans de
Kraker, Dafina Jamasir, Syaura Salsabila, Muzakki Ramdhan, dan Ron
Smoorenburg, aktor laga internasional aktor internasional asal Belanda yang pernah
menjadi lawan Jackie Chan di film Who Am I?.

 

Film Pasukan 1000 Janda akan tayang di bioskop Indonesia mulai 12 November
2026. Terinspirasi dari kisah Laksamana Malahayati dan pasukan Inong Balee, film
Pasukan 1000 Janda akan menghadirkan kisah epik pertempuran para perempuan
yang kehilangan melawan penjajah.

 

Film Pasukan 1000 Janda tayang
mulai 12 November 2026 di bioskop Indonesia

SINOPSIS

SELAT MALAKA, 1599. Beberapa tahun sebelumnya, ketika ancaman Portugis mengoyak perairan Selat Malaka, armada
Kesultanan Aceh Darussalam di bawah komando seorang laksamana perempuan legendaris, Malahayati, bangkit melawan.
Dengan keberanian dan kecerdikannya, ia berhasil menghancurkan armada Portugis dan mengusir mereka dari perairan Aceh.
Namun setelah kemenangan itu, Malahayati menghilang tanpa jejak. Tidak ada yang tahu ke mana perginya sang laksamana. Ia
lenyap seolah ditelan bumi, meninggalkan sebuah pertanyaan yang tak pernah terjawab, siapa yang akan berdiri ketika musuh
berikutnya datang?

Tahun 1599, ancaman baru muncul dari seberang lautan. Jauh dari Eropa, armada Belanda berlayar menuju Selat Malaka
untuk merebut jalur perdagangan yang menjadi urat nadi Nusantara. Di bawah pimpinan Cornelis, seorang Admiral yang
kejam dan tak kenal ampun, pasukan Belanda mulai menebar teror di tanah Aceh.

Desa-desa dibakar. Rakyat diburu. Para lelaki tewas di medan perang, meninggalkan perempuan-perempuan yang kehilangan
suami dan keluarga. Ketika harapan nyaris padam dan tidak ada lagi pasukan yang mampu menghadang Belanda, para
perempuan bangkit dari duka mereka, dan membentuk pasukan yang belum pernah ada sebelumnya.

Pasukan para janda. Satu tekad. Untuk mempertahankan rumah yang mereka cintai. Dari laut hingga daratan Aceh, mereka
bersiap menghadapi pasukan Belanda yang jauh lebih kuat.

Dan ketika sejarah menuliskan bahwa Malahayati telah menghilang, mungkin sejarah belum mengetahui satu hal: Malahayati
tidak pernah benar-benar pergi!