Bukan Sekadar Investigasi Biasa! Film Memburu Pemangsa Sajikan Teror Horror-Crime-Action yang Mencekam

Jakarta, 4 September 2026 — Sinemaku Pictures merilis official teaser poster &
teaser trailer terbaru film Memburu Pemangsa karya sutradara Umay Shahab. Kali
ini, investigasi empat jurnalis perempuan terhadap kasus hilangnya anak-anak
membawa mereka semakin dekat dengan sosok predator yang diduga berada di balik
serangkaian kejahatan tersebut.

Dalam teaser poster, sejumlah anak terlihat berdiri memandangi sebuah akuarium
raksasa. Namun, di balik kaca terlihat sosok misterius yang seolah mengawasi
mereka, memperkuat ancaman yang menjadi bagian dari cerita film ini. Teaser
poster tersebut diambil dari salah satu adegan kunci yang akan ada di film Memburu
Pemangsa, ketika seorang predator memburu anak-anak dari tempat keramaian dan
menjadi pemantik empat jurnalis tersebut memburu pemangsa anak.

 

Sementara itu, nuansa horror-crime-action sangat terasa dalam teaser trailernya.
Empat jurnalis perempuan, Laura Basuki, Prilly Latuconsina, Taskya Namya, dan
Yasamin Jasem menjadi tim investigasi yang tengah menyelidiki kasus hilangnya
anak-anak yang marak terjadi. Perjalanan mengungkap kasus itu justru membawa
mereka ke dalam sebuah bahaya yang tak hanya melibatkan manusia, tapi juga iblis.
Upaya mengungkap siapa penjahat yang selalu memangsa anak-anak juga
mengancam nyawa keempat jurnalis tersebut. Teuku Rifnu Wikana, lagi-lagi tampil
sebagai karakter yang mampu menunjukkan kepiawaian perannya sebagai sosok
yang tak biasa.

 

Ia menjadi sosok yang tengah diburu keempat jurnalis perempuan dan menjadi salah
satu pusat investigasi. Ia diduga berkaitan dengan hilangnya sejumlah anak dan
menjalankan kejahatan yang berkaitan dengan ritual demonologi. Ini membawa
cerita Memburu Pemangsa pada sisi paling gelap dari kekerasan terhadap anak.
Sementara Laura, Prilly, Taskya, dan Yasamin di film ini juga menunjukkan sisi yang
sepenuhnya berbeda. Tak hanya keunggulan akting mereka, tetapi mereka juga
dituntut ekstra untuk terlibat dalam adegan-adegan aksi laga.

 

Memburu Pemangsa sendiri menjadi produksi terbaru Sinemaku Pictures dan
sutradara Umay Shahab yang sepenuhnya berbeda dan paling ambisius. Cerita
Memburu Pemangsa berangkat dari keresahan tentang persoalan yang nyata dan
masih terjadi. Kemenko PMK menyebut Indonesia berada di peringkat keempat

dunia dalam jumlah laporan konten eksploitasi anak secara daring yang diterima
NCMEC (National Center for Missing & Exploited Children). Sementara itu, NCMEC
mencatat laporan yang berkaitan dengan penggunaan Generative AI dalam
eksploitasi seksual anak meningkat dari sekitar 4.700 laporan pada 2023 menjadi
67.000 pada 2024. Dalam enam bulan pertama 2025 saja, NCMEC menerima
440.419 laporan yang berkaitan dengan Generative AI dan eksploitasi seksual anak.
Keseriusan mengangkat isu tersebut juga terlihat dari proses pengembangan cerita.
Tim produksi melakukan riset dan berdiskusi dengan sejumlah pihak untuk
memahami isu kekerasan terhadap anak secara lebih mendalam.

 

 

“Kekerasan terhadap anak yang menjadi bagian dari cerita film ini adalah isu yang
nyata dan dekat dengan kita. Ini adalah keresahan yang penting untuk dibicarakan
lebih luas. Karena itu, kami merasa punya tanggung jawab untuk memahami
persoalan ini lebih dalam. Dalam memproduksi Memburu Pemangsa, kami tidak
hanya mengandalkan cerita fiksi, tetapi juga melakukan riset dan berdiskusi dengan
sejumlah pihak yang memahami isu kekerasan terhadap anak, agar kami bisa
melihat lebih dekat bagaimana kasus-kasus tersebut terjadi dan seperti apa modus
yang dilakukan,” ujar sutradara Umay Shahab.

 

Di tengah investigasi terhadap kasus yang semakin berbahaya, empat jurnalis
perempuan dalam Memburu Pemangsa tidak hanya berhadapan dengan sosok
predator, tetapi juga harus mempertaruhkan keselamatan mereka sendiri dari
ancaman iblis yang meneror dan membongkar praktik demonologi demi
mengungkap kebenaran.

 

 

“Menurut aku, yang menarik dari empat karakter ini adalah mereka punya kekuatan
dan cara yang berbeda dalam menghadapi kasus ini, tapi mereka punya satu hal yang
sama: mereka nggak mau berhenti mencari kebenaran. Semakin jauh mereka masuk
ke kasus ini, semakin besar juga risikonya. Tapi karena ada anak-anak yang harus
diselamatkan, mereka memilih untuk tetap maju,” kata Laura Basuki.