RANS Entertainment Melantai di Bursa, Incar Dana Rp429 Miliar. Pakar Keuangan: Kekuatan Brand Raffi Ahmad Jadi Pedang Bermata Dua
Jakarta – PT RANS Entertainment Indonesia Tbk resmi bersiap melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) dengan menargetkan penghimpunan dana hingga Rp429,25 miliar melalui penawaran umum perdana saham (IPO). Perusahaan media dan hiburan milik Raffi Ahmad dan Nagita Slavina itu menawarkan sebanyak 2,525 miliar saham baru atau setara 20,02 persen dari modal di tempatkan dan di setor penuh setelah IPO.
Baca Juga | Merinding Kru Film Arwah Legong Di Ganggu
Emiten Berkode RANS
Harga penawaran saham berada di kisaran Rp135 hingga Rp170 per lembar. Dengan skema tersebut, emiten berkode RANS berpotensi mengantongi dana segar hingga Rp429,25 miliar.
Dana hasil IPO akan di gunakan untuk berbagai ekspansi bisnis, mulai dari pembangunan taman bermain edukatif Cipungland, penyelenggaraan konser, pengembangan teknologi berbasis kecerdasan buatan (AI), akuisisi PT Rans Kosmetika Indonesia, hingga pelunasan sebagian pinjaman kepada BNI.
Pendapatan RANS Pada 2025
Meski agresif melakukan ekspansi, laporan keuangan perseroan menunjukkan pendapatan RANS pada 2025 turun menjadi Rp353,37 miliar dari Rp410,49 miliar pada tahun sebelumnya. Laba bersih juga terkoreksi 41,6 persen menjadi Rp56,69 miliar.
Ketergantungan pada Figur Raffi Ahmad Jadi Risiko
Resiko Reputasi Figur Raffi Ahmad, Nagita Slavina
Prospektus perusahaan mengungkap salah satu risiko terbesar yang di hadapi perseroan adalah tingginya ketergantungan terhadap figur Raffi Ahmad, Nagita Slavina, serta keluarga mereka sebagai pusat ekosistem bisnis dan talent utama.
Pengamat manajemen keuangan, Dr. Muhammar Amin, menilai langkah IPO RANS merupakan strategi yang tepat untuk mendapatkan sumber pendanaan jangka panjang, namun perusahaan harus segera melakukan di versifikasi agar tidak terlalu bergantung pada popularitas pemiliknya.

Muhammar Amin Ingatkan Resiko Reputasi
Muhammar Amin Pakar Manajemen
“Secara teori manajemen keuangan, IPO memberikan akses terhadap modal yang lebih murah di bandingkan pembiayaan berbasis utang. Namun investor akan melihat sustainability bisnis, bukan sekadar popularitas pemilik perusahaan,” kata Muhammar Amin kepada Mediakota.id, Rabu (24/6/2026).
Muhammar Amin yang meraih gelar doktor dari Universitas Trisakti, tengah menyelesaikan program doktor keduanya di Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung, serta baru menuntaskan pendidikan Sarjana Hukum, mengatakan valuasi perusahaan hiburan sangat bergantung pada kekuatan intellectual property (IP) dan kemampuan monetisasi audiens.
Brand Raffi Ahmad Adalah Aset Yang Sangat Kuat
“Brand Raffi Ahmad adalah aset yang sangat kuat, tetapi sekaligus menjadi pedang bermata dua. Ketika reputasi personal menjadi sumber utama pendapatan, maka risiko reputasi akan langsung berpengaruh terhadap kinerja keuangan perusahaan,” ujarnya.
AI dan Cipungland Di nilai Jadi Mesin Pertumbuhan Baru
Opini Pakar Manajemen Muhammar Amin
Menurut Muhammar, alokasi dana IPO yang di arahkan untuk pengembangan AI dan pembangunan wahana edukasi Cipungland menunjukkan RANS mulai bertransformasi dari sekadar perusahaan konten menjadi perusahaan ekosistem hiburan.
“Dari perspektif corporate finance, langkah ini merupakan di versifikasi portofolio bisnis. Perusahaan berupaya menciptakan recurring income dari sektor yang lebih berkelanjutan di banding hanya mengandalkan endorsement atau talent management,” jelasnya.
Ia menilai bisnis konser dan event masih memiliki prospek besar seiring meningkatnya daya beli masyarakat dan tren ekonomi kreatif di Indonesia.

Ekspansi Harus Di lakukan Secara Hati – Hati
Namun, Muhammar mengingatkan bahwa ekspansi harus di lakukan secara hati-hati mengingat laba perusahaan mengalami penurunan signifikan.
“Investor akan memperhatikan rasio profitabilitas dan kemampuan perusahaan menghasilkan arus kas di masa depan. Pertumbuhan tanpa profitabilitas yang sehat akan menjadi perhatian pasar,” katanya.
Kepemilikan Raffi Ahmad Tetap Dominan
Usai IPO, kepemilikan saham Raffi Ahmad di perkirakan terdilusi dari 78,68 persen menjadi sekitar 62,93 persen. Meski demikian, suami Nagita Slavina tersebut tetap menjadi pemegang saham pengendali.
Kaesang Pangarep, Dony Oskaria,
Sejumlah nama publik lainnya tercatat dalam struktur pemegang saham perusahaan, di antaranya Kaesang Pangarep, Dony Oskaria, Sutanto Hartono, serta PT Indonesia Entertainment Grup.
Raffi Ahmad juga berkomitmen tidak mengalihkan kendali perusahaan selama tiga tahun setelah pencatatan saham perdana, kecuali untuk memenuhi ketentuan hukum yang berlaku.
Investor Di minta Tak Hanya Melihat Popularitas
Muhammar Amin menilai antusiasme publik terhadap IPO RANS sangat tinggi karena faktor kedekatan emosional masyarakat dengan keluarga Raffi Ahmad.
Namun ia mengingatkan calon investor agar tetap menggunakan pendekatan fundamental.
Pasar Modal Bekerja Berdasarkan Ekspektasi Dan Kinerja.
“Pasar modal bekerja berdasarkan ekspektasi dan kinerja. Popularitas dapat menarik perhatian pada tahap awal, tetapi yang menjaga harga saham dalam jangka panjang adalah kemampuan perusahaan menghasilkan laba dan menciptakan nilai bagi pemegang saham,” ujarnya.
Ia memproyeksikan saham RANS berpotensi mendapat sambutan positif saat pencatatan perdana di BEI pada 10 Juli 2026, tetapi keberhasilan jangka panjang akan sangat di tentukan oleh keberhasilan perseroan membangun sumber pendapatan baru di luar figur Raffi Ahmad.
RANS Berpeluang Menjadi Salah Satu Emiten Ekonomi Kreatif
“Jika transformasi menuju perusahaan entertainment berbasis IP, event, teknologi dan AI berhasil di lakukan, maka RANS berpeluang menjadi salah satu emiten ekonomi kreatif yang menarik di Indonesia. Tetapi pasar akan terus menguji apakah pertumbuhan tersebut dapat dikonversi menjadi profit yang berkelanjutan,” pungkasnya.