Produksi Film Baru, Menara Sinema Siap Garap Film Horor “Rumah Pesugihan”.
Jakarta – Rumah produksi Menara Sinema kembali menyiapkan proyek film layar lebar terbarunya. Setelah sukses memproduksi beberapa film diantaranya Senyum Manies Love Story, Arwah Legong, dan Jejak Arwah: Rumah Belanda, Menara Sinema kini bersiap menggarap film berjudul Rumah Pesugihan.
Berbeda dari karya-karya sebelumnya yang kental dengan nuansa horor serius, Rumah Pesugihan akan mengusung genre horor komedi. Film ini memadukan cerita mistis dengan unsur humor segar yang di harapkan dapat menghadirkan pengalaman menonton berbeda bagi penikmat film Tanah Air.
Rumah Pesugihan Akan Melibatkan Banyak Komika
Produser Menara Sinema menyebutkan, Rumah Pesugihan akan melibatkan banyak komika dan pelaku stand up comedy Indonesia. Kehadiran para komedian ini menjadi salah satu daya tarik utama, sekaligus memperkuat sisi komedi tanpa menghilangkan unsur horor yang menjadi benang merah cerita.

Secara garis besar, film Rumah Pesugihan mengangkat mitos dan cerita rakyat tentang rumah yang di yakini menjadi tempat praktik pesugihan. Cerita tersebut di kemas dengan pendekatan ringan dan satir, namun tetap mempertahankan atmosfer mistis yang akrab di telinga masyarakat.
Menara Sinema Menilai Genre Horor Komedi
Menara Sinema menilai genre horor komedi masih memiliki ruang besar di pasar film nasional. Selain dekat dengan keseharian penonton, genre ini juga di nilai mampu menjangkau segmen yang lebih luas, dari pencinta horor hingga penikmat komedi.
Saat ini, proyek Rumah Pesugihan masih dalam tahap persiapan produksi. Informasi mengenai jadwal syuting, daftar pemeran, hingga tanggal rilis akan di umumkan secara bertahap.
Dengan rekam jejak produksi yang konsisten di genre horor, Menara Sinema optimistis Rumah Pesugihan dapat menjadi tontonan hiburan yang segar sekaligus mengangkat kearifan lokal ke layar lebar.
Mengenal Ciri-Ciri Rumah Pesugihan, Mitos yang Masih Hidup di Tengah Masyarakat
Cerita tentang rumah pesugihan masih menjadi perbincangan di sejumlah daerah di Indonesia. Meski sering di kaitkan dengan mitos dan kepercayaan turun-temurun, narasi mengenai rumah yang di yakini sebagai tempat praktik pesugihan tetap hidup dalam ingatan kolektif masyarakat, terutama di wilayah Jawa dan Sunda.
Pesugihan sendiri kerap di pahami sebagai usaha memperoleh kekayaan secara instan melalui cara-cara gaib. Dalam berbagai cerita rakyat dan kisah urban legend, rumah pesugihan di gambarkan memiliki ciri-ciri tertentu yang di anggap berbeda dari hunian biasa.
Berikut sejumlah ciri rumah pesugihan yang kerap disebut dalam cerita masyarakat:
1. Bangunan Tampak Mewah namun Sepi
Rumah pesugihan sering di gambarkan besar dan mencolok di banding rumah di sekitarnya. Namun, aktivitas penghuninya minim dan rumah terlihat sepi, bahkan terkesan tidak terawat.
2. Penghuni Bersifat Tertutup
Pemilik rumah di sebut jarang berinteraksi dengan warga sekitar. Meski tidak memiliki pekerjaan jelas, kondisi ekonominya tiba-tiba meningkat signifikan.
3. Aktivitas Tak Wajar di Malam Hari
Dalam sejumlah kisah, rumah pesugihan kerap menampakkan aktivitas pada malam hari. Lampu menyala hingga larut, di sertai suara-suara aneh seperti langkah kaki, bisikan, atau dentingan benda.
4. Aroma Menyengat yang Muncul Tiba-Tiba
Bau amis, kemenyan, atau dupa di sebut sering tercium tanpa sumber jelas, terutama pada waktu-waktu tertentu yang di anggap sakral.
5. Ruangan yang Tidak Boleh Di masuki
Beberapa cerita menyebut adanya satu ruangan khusus yang tertutup rapat dan di larang di masuki siapa pun, bahkan anggota keluarga sendiri.
6. Lokasi Rumah yang Di anggap Angker
Rumah pesugihan sering di kaitkan dengan lokasi terpencil, dekat hutan, sungai, laut, atau area pemakaman yang sudah lama di kenal warga sebagai tempat angker.
7. Kekayaan Di sertai Musibah
Cerita pesugihan hampir selalu diiringi konsekuensi. Kekayaan yang di peroleh di sebut tidak bertahan lama dan di barengi musibah seperti penyakit, konflik keluarga, atau kematian orang terdekat.
Pakar budaya menilai, kisah rumah pesugihan lebih mencerminkan cara masyarakat tradisional memahami perubahan sosial dan ekonomi yang terjadi secara tiba-tiba. Narasi tersebut juga berfungsi sebagai pengingat moral agar kekayaan tidak di cari dengan cara instan.