Film Sengkolo Petaka Malam Satu Suro – Ritual Cilaka Menukar Jiwa Lindu Jiwo

Ritual Cilaka Menukar Jiwa Utari – Lindu Jiwo

 

 

Film Sengkolo Petaka Satu Suro bercita perihal mitologi masyarakat jawa. Ada yang memaknai Sengkolo adalah suatu entitas gaib yang mengganggu menjelang malam satu suro. Film yang di sutradarai Deni Saputra berhasil membuat penonton menjerit di setiap sengkolo hadir. Sengkolo Petaka Satu Suro di bintangi oleh Aulia Sarah sebagai bidan Rahayu & Agla Artalidia sebagai Marni yang menjadi rekan kerja di klinik bersalin desa. Latar yang di angkat adalah satu desa pesisir yang bernama Sukowati.

Baca Juga | Film Arwah Legong Saat Syuting Di Temani Teriakan Dari Dunia Goib

Cerita di mulai dengan aktivitas keseharian bidan desa Rahayu yang sedang hamil tua. Di Suatu klinik bersalin yang di dampingi oleh Marni sebagai administrasi. Di suatu sore yang indah Rahayu pulang kerumahnya, mendapati suaminya telah selesai memasak, walau masak harian tapi ini adalah masakan istimewa. Karena Mas Cipto ( suami Rahayu ) hari ini berangkat berlayar bersama dengan anaknya. Ia adalah salah satu Nelayan di desa tersebut.

Film Sengkolo Petaka Malam

Rahayu tidak pernah menyangka bahwasanya sore itu, saat ia mengantar suami & anaknya melaut. Merupakan perjumpaan terakhir, karena keesokan harinya suami dan anaknya menjadi korban ganasnya lautan malam tadi. Rahayu sangat terpukul sekali atas kejadian yang menimpanya, di tengah kondisi hamil besar menahan perih yang menyayat hati sangatlah tidak mudah. Sampai suatu ketika ada panggilan mendadak untuk persalinan di waktu malam. Marni menjemput Rahayu di rumahnya dengan menggunakan sepeda motor.

 

 

Di Tengah malam yang mencekam, Marni mengajak Rahayu melewati hutan dengan niat memotong jalan. Namun kejadian yang tidak di sangka-sangka menghampirinya, motor yang di kendarai Marni menerjang lubang hingga mengakibatkan Rahayu terjatuh. Tidak berhenti sampai di situ, Rahayu yang sedang hamil besar pun terpaksa melahirkan di hutan karena saat terjatuh tadi air ketubannya pecah. Sebagai bidan yang berpengalaman Rahayu tau apa yang mesti ia lakukan untuk menyelamatkan anak dalam kandungannya. Rahayu melahirkan di tengah hutan di bantu oleh Marni, suasana gelap hutan & gerimis malam itu semakin mencekam karena bayi yang di lahirkan tidak ada suara tangisnya.

Malam Itu Rahayu Teriak Sejadi Jadinya

Beberapa saat berselang Rahayu tersadar bahwasanya anaknya telah berpulang, atau terlahir tanpa nyawa. Malam itu Rahayu teriak sejadi jadinya, ia marah dengan kondisi yang dialaminya. Luka batin di tinggal suami & anak laki-lakinya belum kering, kini ia mesti menanggung luka baru lagi. Rahayu kesal, ia tidak terima bayinya di ambil karena menurutnya hanya bayi itu yang ia punya. Di Tengah kondisi kalut itu Marni menawarkan solusi, yakni meminta pertolongan dukun yang ia kenal. Tanpa berlama-lama Marni dan Rahayu menyambangi rumah dukun yang di maksud.

Baca Lagi | Film Arwah Legong Sejumlah Pemain Kesurupan Sejadi Jadinya

Setibanya, Rahayu memelas meminta bantuan pada dukun tersebut untuk menyelamatkan nyawa anaknya. Dengan penuh harap Rahayu berkata “aku akan melakukan apapun demi Bayiku selamat.” kepada dukun sakti itu. Kemudian sang dukun setelah memastikan tekat Rahayu itu benar, ia langsung menyiapkan upacara Lindu Jiwo. Di mana ada sesajen lengkap dengan seekor ayam hitam legam (cemani) yang siap di persembahkan. Rahayu mengganti pakaiannya untuk melangsungkan ritual Lindo Jiwo tersebut, ia menyembelih ayam itu menampung darahnya. Seketika setelah ritual itu selesai Bayi Rahayu sadar & terbangun, kemudian ia berinama Utari.

 

 

Sajen Yang Di Syaratkan Untuk Keselamatan

Ritual Lindu Jiwo tidak berhenti sampai di malam itu, karena setelah Bayinya berusia 7 tahun Rahayu wajib memberikan sesajen serupa di awal tersebut. Sajen yang di syaratkan untuk keselamatan anaknya, di lakukan pada malam jumát menjelang malam satu suro. Di mana saat usia Utari 7 tahun dan menjelang malam satu sora, telinga Rahayu menjadi gatal seolah mendengar jeritan mistis yang mencekamnya. Pada malam jumátnya Rahayu melakukan ritual yang di maksud, tetapi setelah melakukan ritual tersebut ia merasa ada yang aneh.

Di malam jumát ke 2 dan ke 3 Rahayu mulai ngeh, ritual tersebut bukan sekedar menyembelih ayam hitam. Lindu Jiwo merupakan ritual tukar jiwa manusia dengan manusia, di situ Rahayu merasa marah dengan perjanjian gaib itu. Ia merasa tidak kuasa menahan gejolak yang ada di tubuhnya, di lain sisi ia juga tidak mau kehilangan Utari. Rahayu merasa hina karena telah terikat dengan perjanjian itu, hingga ia tidak berani menemu Utari. Rahayu ingin terputus dari jeratan itu, saksiakan perjuangan Rahayu selengkapnya di Film Sengkolo Petaka Satu Suro.

 

Kalut Pembawa Maut

 

Kisah Rahayu mengajak penonton untuk merasakan kegelisan mendalam di tinggal mati orang yang di cintainya. Marah, kesal, kecewa hingga sedih di sajikan oleh karakter Rahayu. Di situasi rapuh itu menjadikan Rahayu kalut, kusut tidak karuan juga kacau pikiranya. Hingga mengakibatkan pengambilan keputusan yang spontan. Keputusan yang mesti di bayar oleh Rahayu di kemudian hari hingga ia mengalami kejadian yang tidak di inginkan. Sengkolo Petaka 1 Suro.

Banyak penonton yang berpendapat bahwasanya film ini mengejutkan sekali, begitupun dengan kami merasakan 3 – 5 kali teriak saat menyaksikanya. Banyak sekali adegan mengagetkan atau Istilah yang populer adalah Jump Screen. Walaupun itu merupakan salah satu teknik pembuatan film horor modern, tapi di film sengko ini banyak yang bira extreme. Kami sependapat dengan itu karena kami pun berteriak saat menontonnya. Selain teknik cerita alur cerita dari Film Sengkolo juga sangat menyentuh, mengangkat fenomena yang umum di lakukan di masyarakat jawa. Hingga penonton di buat terhanyut menikmati ceritanya hingga akhir, bahkan ada keterkejutan juga di akhir cerita.

 

 

Fokus Hanya Memuat Satu Wajah

Poster Film Sengkolo Petaka Satu Suro sangat bagus sekali, karena fokus hanya memuat satu wajah saja. Yakni karakter wajah dari anaknya Rahayu yakni Utari yang sudah berusia 7 tahun. Berbalik badan melambaikan tangan, mengisyaratkan permohonan pertolongan atas dirinya. Walaupun tidak mempertebal apapun jika di tafsirkan tanpa menyaksikan trailer filmnya. Bagi penonton penikmat film horor memang tidak begitu penting penebalan dalam poster. Karena jika di trailer & poster tidak menyisakan pertanyaan maka itu akan mengurangi efek kejut dari film horor itu.

Baca Lagi | Film Arwah Legong 2026, Film Yang Menghadirkan Ketakutan Sejadi Jadinya

Film Sengkolo petaka satu suro kami tonton pada tanggal, 30 jan 26 saat kami menyelesaikan tulisan ini (04/02/26) penonton sudah tercatat 193.570 menurut cinepoint. Tapi sayangnya walau tembus ratusan ribu penonton hanya pada App CGV yang memberikan rating bagus, bahkan IMDb memberinya penilaian di bawah 6. Entah apa penyebabnya tapi ya begitulah, ini hanya film horor yang landasan dasarnya hanya menghibur. Tapi bagaimanapun juga ada pesan yang ingin di sampaikan setiap film untuk penontonnya.

Tonton Juga | Film Arwah Legong, Film Yang Bikin Penonton Kencing Di Celana

Premis yang di tangkap oleh penonton dari film Sengkolo Petaka Satu Suro adalah rasa memiliki yang berlebihan ternyata tidak baik. Karena sebagai manusia kita mesti sadar bahwasanya manusia itu lemah. Bahkan dalam film ini di gambarkan manusia termanipulasi oleh kekuatan gaib yang menjadikan ia tidak bermoral. Berlaku bejat menjadi pembunuh, walau di gambarkan hilang akal karena kerasukan, tetap saja tindakan tersebut tidak di benarkan. Rahayu sebagai penggerak cerita merasa kecewa karena semua yang ia sayangi hilang (di ambil) sementara Marni sebagai pematah cerita merasa iri saat membandingkan kondisinya dengan orang lain.

Demikian, Referensi Film

Andim H.M.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *