Na Willa, Film Lebaran yang Hidupkan Kembali Masa Kecil

Press Screening Film Na Willa

 

Kegiatan Press Screening & Conference Film Na Willa. Foto Milik Poplicist. (1)

 

Tim dari Mediakota.id yang di wakili oleh Andim H.M baru saja menghadiri acara Press Screening dan Conference di XXI Epicentrum, Jakarta Selatan pada 10/3/26.  Kerinduan mu dengan masa-masa yang paling ceria akan  tercurahkan dengan menonton Film Na Willa. Setiap kita yang dewasa menganggap masa kanak-kanak adalah masa yang paling indah & masa yang paling dirindukan. Semua kepolosan, keceriaan & spontanitas dunia anak semua tersaji dalam film Na Willa yang akan tayang di bioskop lebaran 2026 ini. Kemarin saat kami menghadiri Press Screening sejenak kami pulang ke dunia Na Willa, dimana itu adalah dunia saat kita kecil dulu yang tanpa beban. Acara tersebut juga dihadiri oleh Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Ibu Irene Umar yang membuka acara prescon tersebut, belia menuturkan ;

 

“Dari film ini (Na Willa) bisa menciptakan kehangatan bagi kita semua, bahwa jadi anak-anak itu seru loh. Kita yang dewasa masih boleh loh jadi anak-anak, karena kadang-kadang hidup kita terlalu serius.” Begitu tutupnya sambil melempar senyum.

 

Jujur saja dilihat secara histori dan juga data, bahwasanya film Anak yang tersaji di negara kita ini masih belum banyak. Terlebih untuk film layar lebar mungkin hanya dihitungan jari saja.

 

“Na Willa sebuah film anak ini merupakan satu gebrakan. Di momen lebaran ini kalau bingung mau mengajak ponakan, anak & cucu mau nonton kemana ini sudah ada pilihanya, Na Willa.” Tambahan dari Bu Wakil Menteri Ekraf Irene Umar.

 

Kegiatan Press Screening & Conference Film Na Willa. Foto Milik Poplicist. (2)

 

Beliau mengajak untuk memanfaatkan libur lebaran tahun ini bersama anak-anak (keluarga) menyaksikan film Na Willa. Na Willa adalah film yang tersaji ramah & aman untuk anak-anak indonesia. Kami pun sependapat dengan hal tersebut, karena layar bioskop kita masih belum banyak film anaknya. Mayoritas cerita yang tersaji di bioskop adalah cerita romantis dewasa, horor yang menakutkan & misi-misi yang penuh kekerasan juga darah. 

Acara Perscon juga dihadiri oleh para Filmmaker Na Willa, mulai dari produser, sutradara, cast dll. Yang sama-sama kita tau, bahwa film ini dikreasikan oleh kreator yang sama pada Film Jumbo. Film yang lebaran tahun lalu sukses meramaikan dengan nyanyian dari Don dan teman-temanya. Sebagaimana yang diharapkan oleh produser eksekutif Bp. Harry dimana Vinema Studio dapat menciptakan IP (Karya) lokal yang bertahan lama juga berdampak mulai dari dalam bioskop sampai dengan luar bioskop. Beliau pun menuturkan setelah sukses dengan Film Jumbo, kami (Visinema) bertanggung jawab atas antusiasme keluarga indonesia di momen libur lebaran untuk menikmati suatu cerita dari karya yang bermutu, seperti film Na Willa.

 

Ditambahkan oleh Teh Anggia Kharisma selaku produser Film Na Willa yang sekaligus sebagai Chief Content Officer dari Visinema, bahwasanya Visinema studio berkomitmen merilis film yang “nge-cruz” (menyegarkan) pada momen lebaran.

 

“Yang paling penting bagi kita (Visinema) komitmen ini terus hadir ketika lebaran. Karena yang kita pahami berdasarkan sebuah data film anak & keluarga yang baik untuk ditonton itu rasa-rasanya masih kurang (belum banyak). Jadi harapannya Kita (Visinema) terus berkesadaran, dikasih panjang umur & panjang bahagia untuk terus menciptakan karya-karya yang bisa dipeluk & disayang oleh kita semua, anak-anak kita juga anak-anak dalam diri kita.” Begitulah ujar Teh Anggia Kharisma.

 

Sebagaimana yang kita tau momen lebaran itu merupakan momen berkumpul, momen dimana semua ikut merayakan & semua terlibat. Mulai dari bayi, anak-anak, remaja, dewasa bahkan hingga kakek nenek larut dalam suasana lebaran. Bersalaman, berpelukan & bercengkrama adalah kehangatan yang bisa terus memupuk kasih sayang pada sanak saudara semua. Berlibur bersama menikmati indahnya kebersamaan membentuk ingatan bahagia yang selalu kita simpan dalam memori otak ini. Bagi masyarakat indonesia lebaran adalah waktu yang dirindukan, baik karena kenangannya ataupun kebahagiaan yang tercipta.

 

Keberagaman Film Na Willa & Adaptasi dari Novel Karya Reda Gaudiamo

 

Kegiatan Press Screening & Conference Film Na Willa. Foto Milik Poplicist. (3)

 

Negara indonesia merupakan suatu negara yang kaya dengan ragam budaya. Negara yang memiliki 500 lebih bahasa daerah dari ribuan suku bangsa. Menjadikan kehidupan di indonesia sangatlah berwarna yang kental dengan toleransi. Dalam film Na Willa keberagaman indonesia ditampilkan, dimana karakter Na Willa sebagai penggerak cerita merupakan keturunan dari percampuran budaya. Mak (Irma Rihi) berasal dari Desa Sagu Nusa Tenggara Timur, sementara Pak (Junior Liem) adalah keturunan Tionghoa dan di dalam rumahnya ada Mbok (Mbok Tun) yang berasa dari jawa. 

 

“Di film Na Willa Keberagaman hadir untuk sama-sama dirayakan,” begitulah ucap Novia Puspa Sari selaku produser.

 

Kita sama-sama telah mengetahui bahwasanya film Na Willa diangkat dari buku novel dengan judul yang sama. Novel yang ditulis oleh Reda Gaudiamo menjadikan rasisme menjadi isu dasar (presmis) dalam karyanya itu. Cerita film yang adaptasi ini pun masih sama premisnya, dimana ada suatu adegan Willa di Bully oleh teman kelasnya karena ia keturunan Tionghoa. Tapi sahabatnya, teman rumahnya di gang krembangan tidak menganggapnya demikian. Dul (Azamy Syauqi) Ida (Freya Mikhayla) Bud (Arsenio Rafisqy) menganggap Willa bukan “cino” bahkan Ida mengungkapkan bahwasanya mata willa tidak sipit, kulitnya tidak putih. 

 

Kegiatan Press Screening & Conference Film Na Willa. Foto Milik Poplicist. (4)

 

Dalam film Reda Gaudiamo juga berperan menjadi penjaga toko buku, dimana menurut kami ia juga turut menjaga keotentikan alur cerita film Na Willa. Bisa dibilang film adaptasi novel ke film itu tidaklah mudah, tentunya itu karena dipengaruhi oleh media yang berbeda. Film  memiliki media yang berbatas dengan durasinya sementara novel tidak terbatas dengan itu. Jadi perlu hati-hati dalam menulis skenario filmnya, karena harus bisa menggambarkan secara utuh cerita yang ada. Sejauh di acara Presscon kami tidak menemukan yang protes karena ceritanya berbeda dengan yang di novel, artinya para sineas berhasil mengadaptasinya menjadi film.

Dalam prescon kemarin Ibu Reda menyatakan tidak pernah membayangkan karyanya dijadikan sebuah Film. Na Willa bermula dari cerita yang ia tulis dalam Blog, kemudian berkembang menjadi buku novel. Setelah banyak yang menyukainya bahkan sampai mancanegara, dibuatkan juga dengan Versi Bahasa Inggris atau versi internasionalnya. Kini Na Willa hidup dalam sebuah karakter Film, bergerak layaknya video dokumentasi perjalanan hidup penulisnya. Ada beberapa harapan dari Reda Gaudiamo selaku pengarang cerita ,

 

“Saya ingin, untuk ayah ibu yang membawa anaknya atau yang anaknya dirumah. Setelah menonton ini (Film Na Willa) bisa menjadi lebih dekat & mau mendengar anaknya.” Begitu ujarnya pada prescon kemarin.

 

Menurut kami pernyataan tersebut sangatlah tepat, ditengah maraknya krisis kepercayaan diri pada anak-anak saat ini, Film Na Willa memberi pesan pada para penontonya (Khususnya Ibu & Bapak) untuk menghormati anak-anak mereka. Mengertilah bahwasanya dunia anak-anak itu sangat bertolak belakang dengan orang dewasa di bagian intrik, politik, negosiasi & manipulasi. Pada anak hanya ada kepolosan & kejujuran. Diakhir kata pada sesi itu penulis menuturkan. 

 

“Anak-anak itu sungguh baik, apabila tumbuh dengan imajinasi yang kuat, dengan keberanian juga dengan rasa gembira.” Begitulah Ibu Reda menutup sesinya pada sesi prescon kemarin.

 

Bernostalgia di Surabaya Pada Tahun 60-an Melalui Na Willa & Gang Krembangan

 

Kegiatan Press Screening & Conference Film Na Willa. Foto Milik Poplicist. (5)

 

Hidup ini terus berjalan dan kita semua pernah melalui suatu masa yang telah berlalu. Banyak dari kita yang merindukan masa lalu, baik itu karena kenangannya, rindunya ataupun yang ada didalamnya. Dalam film Na Willa menyajikan susana tempo dulu, dimana latar dari ceritanya adalah kota surabaya pada tahun 1960 an. Tidak hanya sekedar latarnya, namun isi cerita filmnya akan mengantarkan kita ke masa kecil yang telah kita lalui. Dalam acara prescon sang sutradara menyatakan;

 

“Film Na Willa bukan cuma film untuk anak-anak saja, ini film untuk semua umur. Ini film keluarga yang sangat aman.” Ryan Adriandhy

 

Menurut kami sangat tepat sekali karena film Na Willa mengambil sudut pandang anak-anak, dimana Willa sebagai penggerak ceritanya. Cerita dimulai dengan gumam gadis kecil berusia 6 tahun “kalau besar nanti aku mau setinggi pak, kalo mau ambil yang tinggi gak perlu pake kursi.” Sejak awal penonton sudah diajak masuk kedalam dunia anak-anak.

Mengambil lokasi di gang krembangan kota surabaya, film Na Willa mengangkat cerita kehidupan di lokasi padat penduduk. Mungkin saat ini bisa dibilang ini adalah gang senggol, karena hanya dapat dilalui pejalan kaki, sepeda & becak. Namun di film masih sangat asri sekali karena memang sengaja diciptakan untuk menonjolkan kesan latar tahun 1960 an pada lokasi tersebut. Willa memiliki tiga teman Ida/Farida, Dul juga Bud dari ketiga sahabatnya itu Dul yang paling jahil dan atraktif.

 

Kegiatan Press Screening & Conference Film Na Willa. Foto Milik Poplicist. (6)

 

Dalam film Na Willa kota Surabaya masih ditulis dengan ejaan lama, yakni “SURABAJA” begitulah yang tervisual saat adegan mengantar surat ke kantor pos. Tidak hanya aktivitas kantor pos masih banyak “kejadulan” lain yang tergambar dalam ceritanya. Seperti minuman botol Orange Cruze, Radio Erres yang memutar lagu Lilis Suryani, keramik-keramik vintage dan tata ruang yang jadul banget. Sang sutradara berharap,

Begitu keluar bioskop kita (penonton) kembali merasa bahagia lagi. Ingat bahwa kita dulu memiliki lensa yang begitu jernih, yang begitu jujur yaitu lensa ketika kita anak-anak. Ujar Ryan Adriandhy sebagai penutup sesinya.

Diceritakan Willa sangat kesepian ketika semua temannya pergi kesekolah, karena ibunya lebih memilih untuk mengajarinya membaca & menulis dirumah. Sejujurnya menurut kami itu adalah pilihan yang tepat, dan terbukti Willa sudah bisa membaca & menulis sebelum ia masuk ke sekolah. Bahkan ada satu scene yang menggambarkan bahwa di tahun itu masih kental sekali budaya kolonialnya, saat Willa memasuki hari pertama di sekolahnya dengan bu guru yang menggunakan pendekatan militer dalam pengajarannya.

 

Kegiatan Press Screening & Conference Film Na Willa. Foto Milik Poplicist. (7)

 

Kembali jadi anak-anak adalah kalimat yang dipilih untuk melengkapi judul film Na Willa. Tagline tersebut sangat tepat sekali menurut kami. Secara keseluruhan film Na Willa bercerita tentang kehidupan anak-anak yang sangat ceria, gembira juga penuh warna. Uniknya hal tabu menjadi dewasa dalam sudut pandang anak-anak di ceritakan dengan sangat epic sekali, hingga penonton juga memperoleh sudut pandang baru lagi mengenai hal-hal tabu tersebut. Dimana ketika Willa & Dul nyanyi di rumah sakit yang di iringi suara ambience rumah sakit yang dimaknai sebagai irama musik oleh Dul.

Setelah menonton banyak yang menyatakan film Na Willa itu magical, heartwarming, related dan pujian lainya. Bukan sekedar film anak yang lucu & berpetualang Film Na Willa dapat menyegarkan ingatan masa kecil penonton yang mungkin kini sudah memiliki anak. Film Na Willa sangat bisa dijadikan alasan untuk keluar bersama anak & keluarga. Menurut kami banyak sekali pesan yang bisa dibawa pulang, didiskusikan ulang serta menjadi pembelajaran kedepan dirumah baik untuk orang tua dan anak-anaknya. Film Na Willa akan tayang 18 Maret 2026, di musim libur lebaran 2026, saksikan selengkapnya di bioskop.

 

Andim H.M. (12/03/26)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *